Entri Populer

Senin, 22 Agustus 2011


my lovely fatty,,
kucing yang soknyaaa minta ampun
ndak mau makan ayam
maunya makan coklat
kalo makan maunya ditungguin
kalo nggak, nggak dihabisin
ndak mau dipegang
kalau sa,pai dipegang
seharian dia jilatin bekas tangan
ccckk...ckkk....

Ikhlas?




Sejenak aku bertanya pada diriku. Sudah ikhlaskah aku selama ini?
Bagaimanapun sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Karena ikhlas adalah urusan hati yang hanya diketahui olehNya.
Ulama saja mengatakan kalau ikhlas sangat amat sulit sekali dilakukan. Apalagi yang menimba ilmu agama saja otodidak nggak jelas (kayak aku).
Mungkin banyak yang mengatakan bahwa dirinya ikhlas, tapi sebenarnya Allah tahu dia tidak ikhlas.
Tapi ikhlas dapat diketahui dari beberapa hal. Diantaranya semakin dia beramal semakin mendekat padaNya.
Aku rasa aku masih sangat jauh dari yang namanya ikhlas. Ikhlas, ilmu tersulit untuk dilakukan. Karena sifatnya yang berubah-ubah. Mungkin bisa ikhlas di awal, tapi untuk istiqomah tidak ada yang bisa menjamin.
Alangkah bahagianya bagi mereka yang telah memiliki ikhlas dalam hatinya.
Ia tak pernah memperdulikan apa yang orang bilang pada dirinya. Ia hanya peduli apakah Tuhannya menyukai apa yang dilakukannya saat itu atau tidak. Tentu mendapatkan ikhlas akan mendatangkan kebahagiaan yang sangat dalam hidup. Jauh dari yang namanya iri dengki pada orang lain.
Orang yang ikhlas aku yakin dia akan mendapatkan ketenangan melebihi ketenangan manusia yang berpenghasilan 1 M sebulan. Bagaimana tidak? Tidak ada di dunia ini yang membuatnya bersedih atau takut atau gelisah. Karena ia telah ikhlas dengan apa-apa yang Tuhan berikan untuknya. Ia tidak gelisah tentang masa depan karena ia yakin jika terjadi keburukkan, Tuhannya akan memberikan bonus berupa pengurangan dosa. Lalu jika kebaikkan datang padanya, pahala mengalir karena ia pandai bersyukur.
Mungkin di dunia kita tidak akan lepas dari yang namanya penderitaan. Tapi sejujurnya, tergantung pinter-pinternya kita menyikapi penderitaan itu. Kadang aku berfikir penderitaan di dunia itu tak akan lama. Berapa tahun sih kita hidup? Paling banter 60an lah. Dan nggak mungkin 60 tahun itu terus-terusan menderita. Pasti adalah seneng-senengnya juga. Jika kita mau sabar, pahala pasti mengalir deras. Jika pahala bejibun, insyaAllah masuk surga.
Orang ikhlas enak banget kalau mau masuk surga. Contohnya aja si pelacur yang dikisahin Nabi memberi minum anjing. Dia bisa masuk surga tuh cuman gara-gara minumin anjing. Tapi satu hal, dia memberikan minum itu dengan ikhlas lillahi ta’ala. Tapi ya itu sulit banget untuk memasukkan ikhlas dalam hati. Maka dari itu nih aku bocorin usaha-usaha agar hati bisa ikhlas (dari ust. Yasir): (satu) berdoa pada Allah semoga Allah memasukkan keikhlasan dalam qalbu kita. Setiap hari setiap saat jangan lupa untuk berdoa agar kita bisa ikhlas. Doanya bisa pakai bahasa Indonesia aja yang enak atau kalau mau serius pakai bahasa arab cari di kitab hisnul muslim mungkin ada. (dua) jangan pernah menampilkan ibadah kita pada orang lain, jangan diceritakan apalagi dipertontonkan. Kecuali kalau benar-benar kepepet, misalnya sholat berjamaah. Kan ngak bisa kita sholat jamaah sambil sembunyi.(tiga) menganggap remeh semua amalan yang pernah kita lakuin. Nggak lucu banget jika kita selama hidup merasa buanyak melakukan kebaikkan tapi ternyata 0 besar. (empat) jangan pedulikan omongan orang, mau njelek-jelekin kek mau muji-muji kek, cuekkin dah.
Terus jika orang yang ikhlas mengucapkan “laa ila ha ilallah”, langsung deh dapet tiket emas ke surga. Bandingin aja ma orang yang puasa seumur hidupnya, menyedekahkan semua hartanya, shalat nggak ada habis-habisnya tapi belum tentu dia masuk surga karena tidak ikhlas.
So, teman ayok kita sama-sama brusaha untuk ikhlas. Semoga Allah mempertemukan kita di Jannah Firdaus..

Rabu, 20 Juli 2011

Yang manakah hatimu?

Yang ketika diberikan segenggam garam
Yang manakah hatimu?
Segelas air atau Danau yang luas?
Hati yang sempit ketika diberikan sebuah cobaan,
Cobaan itu akan terasa begitu asin.
Jadilah hatimu seluas hamparan air di danau yang luas
Sebesar apapun cobaan itu tidak akan terasa pahit dirasa...

Selasa, 19 Juli 2011

Ilmu, sampai mati!!


Ana, dia seorang remaja. Dia sering mengikuti acara kajian-kajian keislaman. Meskipun tidak banyak yang ia ketahui, setidaknya ada beberapa ilmu tentang kehidupan yang dapat ia terima dari kajiannya. Datang di kajian seperti itu bukan hal yang mudah. Apalagi pada waktu awal-awal mengikuti kajian. Kaki yang sering kesemutan, bosan yang tak tertahankan, belum lagi adaptasi dengan orang-orang baru di sekitar. Tapi ia terus mencoba dan mencoba untuk bertahan.
Belum kesulitan di awal-awal itu teratasi Ana dihadapkan pada kesulitan selanjutnya, istiqomah. Sungguh sangat sulit bagi dirinya menyisakan waktu untuk kajian. Capek setelah sekolah dan PR yang bejibun membuatnya kadang mengurungkannya untuk kajian.
Tapi ia sudah terlanjur mendapatkan “sedikit” manfaat dari kajian yang ia ikuti. Ia tahu bagaimana shalat yang benar. Dia tidak lagi melafadzkan niat saat akan memulai shalat. Ia tahu bagaimana posisi-posisi yang benar saat takbiratul ikhram. Ia tahu bagian mana saja yang harus menempel saat sujud. Seperti mengambil makanan, saat ini ia baru mengambil nasi. Oleh karena itu ia harus mengambil lauknya.
Mau tidak mau, Ana mengerjakan PRnya lebih awal dan menepis capek yang ia rasakan. Ia lantas mengikuti kajian. Meskipun saat ini mengikuti kajian belum menjadi hal yang menyenangkan baginya. Bahkan tidur siang kini hanya menjadi angan-angan. Entah semangat darimana yang membuat ia ingin terus bertahan.
Sudah menjadi sunatullah, jika semangat tak akan selamanya membara terkadang ia redup. Ana melihat teman-temannya ia merasa iri, teman-temannya memiliki waktu yang banyak untuk belajar. Sehingga mereka bisa bersantai setelahnya. Sedangkan ia harus banyak “membuang” waktu berjalan ke sana ke mari untuk mencari ilmu agama. Setelah selesai baru ia belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Suatu siang di mushola sekolahnya, ia hendak mengerjakan sholat dzuhur. Di tempat wudhu ia melihat temannya dari kelas lain sedang wudhu. Ia tidak mengusap seluruh rambutnya, tapi hanya sedikit di rambut depannya. Mereka juga sholat bersama. Di tengah shalatnya yang belum khusuk ia melihat temannya itu shalatnya belum benar masih banyak yang salah.
Setelah shalat ia merenung,
“Bukankah syarat diterimanya amal ada 2 yaitu ikhlas dan sesuai sunah rasul. Masalah ikhlas hanya Allah yang tahu, kita hanya berusaha. Kalau sesuai sunah rasul, itu harus didapat dengan belajar atau dari kajian. Bukankah sebenarnya inti dari kehidupan ini adalah hanyalah mencapai surga? Jikalau dunia adalah tempat akhir kenikmatan maka Allah tak akan memberikan sakit dan perih di dalamnya. Surga tidak murah, karena kenikmatannya yang beratus-ratus kali lipat dari kenikmatan duniawi.
Seperti menempuh perjalanan panjang yang gelap. Seperti itulah keadaan diriku. Jika aku ingin sampai ditempat tujuan dengan selamat. Maka aku harus memiliki cahaya. Dalam kehidupan ini, ilmulah cahaya itu. Ilmu menunjukkan padaku bagaimana mengumpulkan pahala demi pahala, menunjukkan cara agar Sang Pemilik Surga menyukaiku, serta menunjukkan jalanan sesat yang harus kuhindari.
Allah, aku mohon padaMu berikan aku cahayaMu sehingga aku bisa bertemu denganMu. Berikan teman-temanku dan semuanya cahaya itu juga. Berikan aku ketegaran saat menempuh jalan untuk mencari cahaya itu. Berikan aku keistiqomahan untuk terus berada di jalanMu sampai ajal menjemputku.Amin…“