Entri Populer
Selasa, 19 Juli 2011
Ilmu, sampai mati!!
Ana, dia seorang remaja. Dia sering mengikuti acara kajian-kajian keislaman. Meskipun tidak banyak yang ia ketahui, setidaknya ada beberapa ilmu tentang kehidupan yang dapat ia terima dari kajiannya. Datang di kajian seperti itu bukan hal yang mudah. Apalagi pada waktu awal-awal mengikuti kajian. Kaki yang sering kesemutan, bosan yang tak tertahankan, belum lagi adaptasi dengan orang-orang baru di sekitar. Tapi ia terus mencoba dan mencoba untuk bertahan.
Belum kesulitan di awal-awal itu teratasi Ana dihadapkan pada kesulitan selanjutnya, istiqomah. Sungguh sangat sulit bagi dirinya menyisakan waktu untuk kajian. Capek setelah sekolah dan PR yang bejibun membuatnya kadang mengurungkannya untuk kajian.
Tapi ia sudah terlanjur mendapatkan “sedikit” manfaat dari kajian yang ia ikuti. Ia tahu bagaimana shalat yang benar. Dia tidak lagi melafadzkan niat saat akan memulai shalat. Ia tahu bagaimana posisi-posisi yang benar saat takbiratul ikhram. Ia tahu bagian mana saja yang harus menempel saat sujud. Seperti mengambil makanan, saat ini ia baru mengambil nasi. Oleh karena itu ia harus mengambil lauknya.
Mau tidak mau, Ana mengerjakan PRnya lebih awal dan menepis capek yang ia rasakan. Ia lantas mengikuti kajian. Meskipun saat ini mengikuti kajian belum menjadi hal yang menyenangkan baginya. Bahkan tidur siang kini hanya menjadi angan-angan. Entah semangat darimana yang membuat ia ingin terus bertahan.
Sudah menjadi sunatullah, jika semangat tak akan selamanya membara terkadang ia redup. Ana melihat teman-temannya ia merasa iri, teman-temannya memiliki waktu yang banyak untuk belajar. Sehingga mereka bisa bersantai setelahnya. Sedangkan ia harus banyak “membuang” waktu berjalan ke sana ke mari untuk mencari ilmu agama. Setelah selesai baru ia belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Suatu siang di mushola sekolahnya, ia hendak mengerjakan sholat dzuhur. Di tempat wudhu ia melihat temannya dari kelas lain sedang wudhu. Ia tidak mengusap seluruh rambutnya, tapi hanya sedikit di rambut depannya. Mereka juga sholat bersama. Di tengah shalatnya yang belum khusuk ia melihat temannya itu shalatnya belum benar masih banyak yang salah.
Setelah shalat ia merenung,
“Bukankah syarat diterimanya amal ada 2 yaitu ikhlas dan sesuai sunah rasul. Masalah ikhlas hanya Allah yang tahu, kita hanya berusaha. Kalau sesuai sunah rasul, itu harus didapat dengan belajar atau dari kajian. Bukankah sebenarnya inti dari kehidupan ini adalah hanyalah mencapai surga? Jikalau dunia adalah tempat akhir kenikmatan maka Allah tak akan memberikan sakit dan perih di dalamnya. Surga tidak murah, karena kenikmatannya yang beratus-ratus kali lipat dari kenikmatan duniawi.
Seperti menempuh perjalanan panjang yang gelap. Seperti itulah keadaan diriku. Jika aku ingin sampai ditempat tujuan dengan selamat. Maka aku harus memiliki cahaya. Dalam kehidupan ini, ilmulah cahaya itu. Ilmu menunjukkan padaku bagaimana mengumpulkan pahala demi pahala, menunjukkan cara agar Sang Pemilik Surga menyukaiku, serta menunjukkan jalanan sesat yang harus kuhindari.
Allah, aku mohon padaMu berikan aku cahayaMu sehingga aku bisa bertemu denganMu. Berikan teman-temanku dan semuanya cahaya itu juga. Berikan aku ketegaran saat menempuh jalan untuk mencari cahaya itu. Berikan aku keistiqomahan untuk terus berada di jalanMu sampai ajal menjemputku.Amin…“
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar